Seputar Kita

Kadang kita melewatkan hal kecil yang akan berefek besar dalam kehidupan kita. Teruslah motivasi diri dengan terus berbagi........Karena tanpa kita sadari setiap detik waktu kita tak akan pernah kembali, jadikan berharga, jadikan bermanfaat.... Tetap di seputar kita..........
Powered By Blogger

Jumat, 08 Oktober 2010

Cerita Sepiring Pisang Goreng.....


Hari itu hari sabtu malam, orang bilang waktu ini adalah waktu yang panjang karena ini adalah waktu berlibur  untuk sebagian orang. Akupun merelakan malam mingguku untuk duduk dimasjid dekat rumah, temanku mengajak bertemu setelah sholat isya’ katanya. Setelah beberapa saat menunggu-nunggu, dia datang dengan membawa sepiring pisang goreng dan sepiring kacang, buat camilan katanya.

Dia mengajakku masuk ke masjid, kemudian memintaku membantunya untuk menggeser papan dan menyiapkan karpet. Diambilnya pula beberapa spidol dan di coret-coretkan untuk melihat apakah masih berfungsi atau tidak. Aku diam saja mengamati dia, pikiranku masih terpaku pada pisang goreng.

“ Lama menunggu? Maaf ya, tadi soalnya bantuin ibu dulu….” Kalimatnya membuka percakapan.

“Ya, gak masalah. Asal imbalannya ada aja!” sahutku sambil melirik pisang goreng. “ Kok tumben ngajak kesini ada apa?" Pertanyaanku langsung menuju sasaran. Karena memang sudah sangat lama, kami tidak bertemu. Setelah kelas 2 SD tidak bertemu, bertemu kembali di kelas 6 unggulan (gabungan beberapa siswa dari beberapa SD) kemudian tidak bertemu lagi, dan sekarang SLTP kelas 2…. Terkesan aneh menurutku…

“Iya, kalo masalah pisang goreng… bolehlah!” katanya sambil mengambil pisang goreng dan memakannya. “ Ambil aja!” selorohnya.

Secara belum makan malam.... ya tentu pisang goreng pilihan tepat untuk mengisi perut. Kami melanjutkan dengan bercerita tentang masa kecil kami, apa saja yang sudah dilakukan selama ini, tentang kabar teman-teman kami dan banyak hal. Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada seorang pria yang berperawakan kecil dengan memakai baju koko dan memperkenalkan dirinya sebagai pengajar ngaji.

“Waduh….dijebak ini…aku bakal diajak belajar ngaji…Padahal belepotan baca huruf hijaiyah…Gimana ya?” Dalam otakku terbersit banyak pikiran. Ingin pamit, gak enak udah makan pisang goreng, lagian apa alasannya? Salah nih…!!!! Mampus… mampus…. Apa kata dunia, kalau seorang ‘anak band’ belajar ngaji…. Malu juga kalo di suruh baca Al-Qur’an, pasti belepotan… Secara udah lama gak baca, punya sih dirumah, tapi gak kesentuh..

Setelah berbasa-basi sebentar, … Aku ditanya,” Udah juz berapa?” Mampus…. Benerankan, pasti ditanya….. Apalagi melihat temanku yang memasang wajah polos, seolah tidak tahu latar belakangku….

Mengakulah saya,” Iya ustad, baru juz 1 terkhir….” “Wah lumayanlah, daripada tidak sama sekali kan?” jawab pak ustad. Dalam benakku berkata, “Iya sih gak bohong juz 1 dari kelas 6 SD….wkwkwk….” Bersyukur saya tidak malu-malu amat.

“Oke deh, gimana kalau kita mulai?” kata pak ustad kepada temanku.

“Maaf pak, mulai apa ya?” Aku gusar takut kalau ketahuan udah lama gak baca Al-Qur’an.

“Kita mulai pengajian hari ini, seperti biasa, disini kalau malam minggu masjid mengadakan pengajian untuk remaja.” Pak ustad menjawab sambil membuka-buka buku. Dan kulihat temanku masuk ke ruang pengurus masjid.

Hufftt… untung, gak masalah deh ikut pengajian. Sekali-kali, masak malam minggu kerjaannya nongkrong di taman kota terus.... sambil main gitar? Hehehe…. Agak tenang tidak disuruh baca Al-Qur’an.

Jreng….Temanku datang dengan membawa 2 Al-Qur’an. Dag-dig-dug….. Yah, bakal baca nih… Yah, malu deh… Yah….

“Oke mas, silahkan di buka Al-Qur’an-nya. Kemarin kita terakhir tilawah sampai surat Al-Kahfi…” Pak ustad memintaku untuk membaca Al-Qur’an.

“Ya Allah, Ya Robbi, Duh Gusti…. Sudah lama aku tidak menyentuh Al-Qur’an. Aku malu, rasanya sudah lama sekali. Apakah aku masih bisa membacanya?” Aku bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba temanku menukar Al-Qur’an-nya yang sudah di buka di surat Al-Kahfi dengan Al-Qur’an-ku.

“Bismillahirrahmanirrahim…..” Aku baca dulu surat Al-Fatihah, sebagai pemanasan. Begini-begini kalo sholat aku masih baca Al-Fatihah….. Mulailah aku membaca dan mengeja huruf demi huruf, merangkainya menjadi satu ayat, berlanjut sampai setengah halaman….

Hufff….. keringatku bercucuran seolah baru lari sprint 100 m, tanganku gemetaran, kepalaku pusing….. Ternyata walau terbata-bata aku masih bisa membacanya… Terima kasih Ya Rabb…

Giliran temanku membaca lanjutan ayatnya, terdengar olehku betapa lancarnya dia mengeja huruf-huruf arab itu. Seolah mengalir, menciptakan nada-nadanya sendiri, bahkan terdengar sangat merdu… Aku malu, sangat malu…

Malam itu setelah membaca Al-Qur’an, ustad mulai menerangkan sebuah materi dengan sesekali membuat tulisan arab di papan tulis. Aku tidak mengerti, bahkan materinya-pun tidak pernah ku dengar sebelumnya. Karena bosan, aku coba mengamati sekitar, hanya kami bertiga…. Akhirnya tak ada yang bisa kulakukan selain mencoba berkonsentrasi pada materi, tapi karena tidak mengerti , lagi-lagi menguaplah diriku........ Yang kutangkap hanya sebuah istilah yang baru ku dengar Ghazwul fikri ustad menterjemahkannya sebagai perang pemikiran.

Dalam benakku bertanya-tanya apa itu perang pemikiran??? Ah, sudahlah…. Ngikut aja dulu tar aja tanya-tanyanya.

Ternyata pengajian berlangsung lama sekarang jam dinding masjid meunjukkan pukul 21.43 WIB, kelopak mataku semakin berat. Aku benar-benar berharap segera selesai….

Syukur, sepertiya ustad mengerti pikiranku. Tak lama pengajian di tutup dengan do’a, yang saat itu katanya disebut sebagai do'a penutup majelis. Aku hanya mengamini aja, biasa tradisi jawa kalau ada yang berdo’a harus diamini.

Setelah selesai ternyata aku masih diajak ngobrol oleh ustad, berbagai hal. Bahkan sampai kehidupan pribadikupun ditanyakan…. Terasa berbeda, rasanya begitu tenang, tidak ngantuk lagi… Kamipun ngobrol sampai larut, tak kusangka ternyata si ustad cukup nyaman untuk diajak sharing. Dalam bayanganku, sosok ustad adalah sosok bersorban, memakai gamis, dengan wajah serius dan sering ceramah disana-sini, ternyata tidak.

Tak lama kemudia ustad berpamitan,” Mas, pekan depan datang lagi ya? Besok saya mau pergi ke luar daerah ntar saya bawakan oleh-oleh.” “Baik,ustad….nanti saya tagih oleh-olehnya,” jawabku sekenanya. Padalah memang ‘kena’, aku benar-benar ‘kena’.

Baru kusadari...... Aku malu....... ternyata selama ini telah meninggalkan Al-Qur’an… Aku malu, temanku ternyata sudah jauh meninggalkanku….  Saat itu, aku bertekad ingin memperbaiki diri, memperbaiki bacaan Qur’anku.

Aku rasa itulah yang disebut hidayah, tak disangka-sangka jalannya. Hari ini hidayah itu datang lewat pisang goreng yang dibawa temanku. 

Mungkin suatu saat aku bisa menjadi orang yang seperti dia… Menjadi jalan hidayah untuk orang lain. Walau hanya berbekal sepiring pisang goreng, kalau sudah ada tekad pasti akan terbuka jalannya.

Inilah kesan pertamaku tentang kajian, meski tidak mengerti tapi aku yakin kegiatan seperti ini bermanfaat.

by. Salman Al-Fatih

3 komentar:

  1. 私はそうした非常に少女を引きつけます, hehehe.
    nie suka deh ka, tak kasih 4 jempol :)

    BalasHapus
  2. nice,,,jd de javu saya :)

    BalasHapus
  3. Maaf ni boleh tau shishido Ryou sapa ya?

    BalasHapus