Hari
itu hari sabtu malam, orang bilang waktu ini adalah waktu yang panjang karena
ini adalah waktu berlibur untuk sebagian
orang. Akupun merelakan malam mingguku untuk duduk dimasjid dekat rumah,
temanku mengajak bertemu setelah sholat isya’ katanya. Setelah beberapa saat menunggu-nunggu,
dia datang dengan membawa sepiring pisang goreng dan sepiring kacang, buat
camilan katanya.
Dia
mengajakku masuk ke masjid, kemudian memintaku membantunya untuk menggeser
papan dan menyiapkan karpet. Diambilnya pula beberapa spidol dan di
coret-coretkan untuk melihat apakah masih berfungsi atau tidak. Aku diam saja
mengamati dia, pikiranku masih terpaku pada pisang goreng.
“
Lama menunggu? Maaf ya, tadi soalnya bantuin ibu dulu….” Kalimatnya membuka
percakapan.
“Ya,
gak masalah. Asal imbalannya ada aja!” sahutku sambil melirik pisang goreng. “
Kok tumben ngajak kesini ada apa?" Pertanyaanku langsung menuju sasaran. Karena memang
sudah sangat lama, kami tidak bertemu. Setelah kelas 2 SD tidak bertemu,
bertemu kembali di kelas 6 unggulan (gabungan beberapa siswa dari beberapa SD) kemudian tidak bertemu lagi, dan
sekarang SLTP kelas 2…. Terkesan aneh menurutku…
“Iya,
kalo masalah pisang goreng… bolehlah!” katanya sambil mengambil pisang goreng
dan memakannya. “ Ambil aja!” selorohnya.
Secara
belum makan malam.... ya tentu pisang goreng pilihan tepat untuk mengisi perut.
Kami melanjutkan dengan bercerita tentang masa kecil kami, apa saja yang sudah
dilakukan selama ini, tentang kabar teman-teman kami dan banyak hal. Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba
ada seorang pria yang berperawakan kecil dengan memakai baju koko dan
memperkenalkan dirinya sebagai pengajar ngaji.
“Waduh….dijebak
ini…aku bakal diajak belajar ngaji…Padahal belepotan baca huruf hijaiyah…Gimana
ya?” Dalam otakku terbersit banyak pikiran. Ingin pamit, gak enak udah makan
pisang goreng, lagian apa alasannya? Salah nih…!!!! Mampus… mampus…. Apa kata
dunia, kalau seorang ‘anak band’ belajar ngaji…. Malu juga kalo di suruh baca Al-Qur’an,
pasti belepotan… Secara udah lama gak baca, punya sih dirumah, tapi gak
kesentuh..
Setelah
berbasa-basi sebentar, … Aku ditanya,” Udah juz
berapa?” Mampus…. Benerankan, pasti ditanya….. Apalagi melihat temanku yang
memasang wajah polos, seolah tidak tahu latar belakangku….
Mengakulah
saya,” Iya ustad, baru juz 1 terkhir….” “Wah lumayanlah, daripada tidak sama sekali
kan?” jawab pak ustad. Dalam benakku berkata, “Iya sih gak bohong juz 1 dari
kelas 6 SD….wkwkwk….” Bersyukur saya tidak malu-malu amat.
“Oke
deh, gimana kalau kita mulai?” kata pak ustad kepada temanku.
“Maaf
pak, mulai apa ya?” Aku gusar takut kalau ketahuan udah lama gak baca Al-Qur’an.
“Kita
mulai pengajian hari ini, seperti biasa, disini kalau malam minggu masjid
mengadakan pengajian untuk remaja.” Pak ustad menjawab sambil membuka-buka buku. Dan
kulihat temanku masuk ke ruang pengurus masjid.
Hufftt…
untung, gak masalah deh ikut pengajian. Sekali-kali, masak malam minggu
kerjaannya nongkrong di taman kota terus.... sambil main gitar? Hehehe…. Agak tenang
tidak disuruh baca Al-Qur’an.
Jreng….Temanku
datang dengan membawa 2 Al-Qur’an. Dag-dig-dug….. Yah, bakal baca nih… Yah,
malu deh… Yah….
“Oke
mas, silahkan di buka Al-Qur’an-nya. Kemarin kita terakhir tilawah sampai surat Al-Kahfi…” Pak ustad memintaku untuk membaca
Al-Qur’an.
“Ya
Allah, Ya Robbi, Duh Gusti…. Sudah lama aku tidak menyentuh Al-Qur’an. Aku
malu, rasanya sudah lama sekali. Apakah aku masih bisa membacanya?” Aku bingung
harus melakukan apa. Tiba-tiba temanku menukar Al-Qur’an-nya yang sudah di buka
di surat Al-Kahfi dengan Al-Qur’an-ku.
“Bismillahirrahmanirrahim…..”
Aku baca dulu surat Al-Fatihah, sebagai pemanasan. Begini-begini kalo sholat
aku masih baca Al-Fatihah….. Mulailah aku membaca dan mengeja huruf demi huruf,
merangkainya menjadi satu ayat, berlanjut sampai setengah halaman….
Hufff…..
keringatku bercucuran seolah baru lari sprint 100 m, tanganku gemetaran,
kepalaku pusing….. Ternyata walau terbata-bata aku masih bisa membacanya…
Terima kasih Ya Rabb…
Giliran
temanku membaca lanjutan ayatnya, terdengar olehku betapa lancarnya dia mengeja
huruf-huruf arab itu. Seolah mengalir, menciptakan nada-nadanya sendiri, bahkan
terdengar sangat merdu… Aku malu, sangat malu…
Malam
itu setelah membaca Al-Qur’an, ustad mulai menerangkan sebuah materi dengan
sesekali membuat tulisan arab di papan tulis. Aku tidak mengerti, bahkan
materinya-pun tidak pernah ku dengar sebelumnya. Karena bosan, aku coba mengamati sekitar, hanya
kami bertiga…. Akhirnya tak ada yang bisa kulakukan selain mencoba berkonsentrasi pada materi, tapi karena tidak
mengerti , lagi-lagi menguaplah diriku........ Yang kutangkap hanya sebuah istilah yang baru ku
dengar Ghazwul fikri ustad
menterjemahkannya sebagai perang pemikiran.
Dalam
benakku bertanya-tanya apa itu perang pemikiran??? Ah, sudahlah…. Ngikut aja
dulu tar aja tanya-tanyanya.
Ternyata
pengajian berlangsung lama sekarang jam dinding masjid meunjukkan pukul 21.43
WIB, kelopak mataku semakin berat. Aku benar-benar berharap segera selesai….
Syukur,
sepertiya ustad mengerti pikiranku. Tak lama pengajian di tutup dengan do’a,
yang saat itu katanya disebut sebagai do'a penutup majelis. Aku hanya mengamini aja, biasa tradisi jawa
kalau ada yang berdo’a harus diamini.
Setelah
selesai ternyata aku masih diajak ngobrol oleh ustad, berbagai hal. Bahkan
sampai kehidupan pribadikupun ditanyakan…. Terasa berbeda, rasanya begitu tenang, tidak ngantuk
lagi… Kamipun ngobrol sampai larut, tak kusangka ternyata si ustad cukup nyaman
untuk diajak sharing. Dalam bayanganku, sosok ustad adalah sosok bersorban,
memakai gamis, dengan wajah serius dan sering ceramah disana-sini, ternyata
tidak.
Tak
lama kemudia ustad berpamitan,” Mas, pekan depan datang lagi ya? Besok saya mau
pergi ke luar daerah ntar saya bawakan oleh-oleh.” “Baik,ustad….nanti saya
tagih oleh-olehnya,” jawabku sekenanya. Padalah memang ‘kena’, aku benar-benar ‘kena’.
Baru kusadari...... Aku
malu....... ternyata selama ini telah meninggalkan Al-Qur’an… Aku malu, temanku
ternyata sudah jauh meninggalkanku…. Saat itu, aku
bertekad ingin memperbaiki diri, memperbaiki bacaan Qur’anku.
Aku
rasa itulah yang disebut hidayah, tak disangka-sangka jalannya. Hari ini
hidayah itu datang lewat pisang goreng yang dibawa temanku.
Mungkin suatu saat aku bisa menjadi orang yang seperti dia… Menjadi jalan hidayah untuk orang lain. Walau hanya berbekal sepiring pisang goreng, kalau sudah ada tekad pasti akan terbuka jalannya.
Mungkin suatu saat aku bisa menjadi orang yang seperti dia… Menjadi jalan hidayah untuk orang lain. Walau hanya berbekal sepiring pisang goreng, kalau sudah ada tekad pasti akan terbuka jalannya.
Inilah
kesan pertamaku tentang kajian, meski tidak mengerti tapi aku yakin kegiatan
seperti ini bermanfaat.
by. Salman Al-Fatih
by. Salman Al-Fatih


私はそうした非常に少女を引きつけます, hehehe.
BalasHapusnie suka deh ka, tak kasih 4 jempol :)
nice,,,jd de javu saya :)
BalasHapusMaaf ni boleh tau shishido Ryou sapa ya?
BalasHapus